Tri Handayani adalah putri ke-3 dari pasangan ayah bernama Dahyono dan ibu bernama Karsinem. Ia dilahirkan di Sleman, tanggal 21 September 2002. Bapaknya sudah purna tugas sejak tahun 2016 menjadi PNS berupa mengajar di sebuah SD, akan tetapi masih saja dibutuhkan sampai sekarang karena belum ada pengganti guru lainnya. Sedangkan ibunya bekerja sebagai pedagang kecil dengan membuka usaha berupa warung kelontong. Sejak kecil sampai saat ini ia tinggal bersama orang tuanya di dusun Janturan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun menjadi putri yang terakhir dari dua kakak perempuannya, ia tetap senang dan bersyukur atas apa yang diberikan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.
Tri Handayani sekarang sudah duduk di bangku kelas XII DPIB 3 SMK Negeri 2 Yogyakarta. Ia dulu bersekolah di TK Tirtosiwi. Melanjutkan ke jenjang selanjutnya di SD Negeri Tirtoadi dan selanjutnya di SMP Negeri 1 Mlati. Meskipun seorang yang cukup pendiam dan pemalu, ia termasuk siswa yang rajin di kelasnya.
Tri Handayani merupakan seorang yang hobinya bersepeda dan bermain musik gamelan jawa. Karena ia ingin melestarikan budaya yang ada di Tanah Air ini. Ia pernah meraih kejuaraan yaitu juara 2 lomba musik tradisional tingkat Kota Yogyakarta tahun 2019 dan juara 1 bidang lomba dan tingkat yang sama tahun 2020 yang lomba tersebut berkelompok 5 orang. Saat ini masih berlatih gamelan untuk maju mewakili Kota Yogyakarta, namun sayangnya setelah ada Pandeni Corona menjadi dibatalkan. Selain itu, ia juga suka baris-berbaris atau yang biasanya disebut LBB (Lomba Baris-Berbaris). Saat di SMP, ia pernah juara 1 LBB tingkat kecamatan, namun sayangnya juara tersebut tidak diteruskan menuju lomba tingkat kabupaten. Akhirnya begitu masuk di SMK, Tri Handayani tidak meneruskan atau bergabung ekstrakurikuler baris-berbaris. Ia memilih bergabung di eksrakurikuler Rohis (Rohani Islam) agar meningkatkan dan membenahi amalan ibadah serta lebih meningkatkan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Jika ditanya, tidak terlalu menekuni sebuah prestasinya, tapi mau tidak mau ia tetap terlihat seorang siswi yang berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan sejumlah prestasi di sekolahnya. Sekarang ia mempunyai cita-cita menjadi arsitek di salah satu universitas yang ada di Yogyakarta. Sehingga ia masuk di jurusan DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan). Walaupun juga tidak begitu yakin dengan cita-cita tersebut karena berulangkali cita-citanya bergonta-ganti. Selama masih bersekolah, ia mengatakan tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk hal tidak bermanfaat. Ia berangkat sekolah dengan semangat yang tinggi, terkadang berangkat hanya memakai sepeda miliknya sendiri walaupun jarak rumah ke sekolah 10 kilo meter, tepatnya 9,7 kilo meter. Tetapi semangat bersekolah sangat menginspirasi ia ataupun seseorang. Karena selain bersemangat juga dapat membuat tubuh menjadi sehat, daya tahan tubuh menjadi kuat jika bersepeda dan juga dapat menghemat bensin serta tidak harus merepotkan orang tua untuk bisa mengantarkan ke sekolah.
Komentar
Posting Komentar